Tao Te Ching
道德經
Catatan pengantar
Tao Te Ching (Daodejing, 道德經) adalah kitab pendiri Taoisme filosofis: delapan puluh satu bab pendek berupa aforisme berpasangan, yang secara tradisi dinisbahkan kepada Laozi, seorang arsiparis di istana Zhou yang, menurut legenda, menuliskannya bagi seorang penjaga perbatasan sebelum menghilang ke arah barat. Penisbahan itu hampir pasti bersifat legendaris; teksnya tumbuh dan mengendap antara abad keenam dan keempat sebelum Masehi, dengan lembar-lembar bambu Guodian (sekitar 300 SM) sebagai saksi tertua yang masih ada. Edisi ini menerjemahkan resensi Wang Bi yang diterima, terbagi menjadi Kitab Jalan (bab 1–37) dan Kitab Daya (bab 38–81).
Judulnya menamai dua kata kuncinya. Dao (道) adalah "Jalan": sumber tanpa-nama yang mendahului langit dan bumi, sekaligus pola tempat segala hal bergerak; ketika kata itu menunjuk yang mutlak, terjemahan ini menuliskannya dengan huruf besar. De (德) adalah "daya" — keutamaan atau potensi bawaan sebuah hal, bukan kesalehan moral. Bab-babnya beredar di sekitar sejumlah gambar berulang: air yang menang dengan menyerah, bayi yang belum terbentuk, lembah dan sang betina, dan "kayu yang belum dipahat" (樸) sebagai kesederhanaan yang mendahului segala perkakas dan pembedaan. Gerakan pusatnya adalah wu-wei (無為), "tanpa-tindakan": bukan kepasifan, melainkan bertindak tanpa memaksa, membiarkan segala hal menjadi seperti adanya sendiri (自然).
Suara kitab ini bersandar pada paradoks yang harfiah, bukan pada suasana yang samar. Baris-baris seperti "bertindak dengan tanpa-tindakan" atau "yang tahu tidak berkata" adalah paradoks verbal yang cermat, dan terjemahan ini mempertahankannya persis sebagaimana ia dibangun, alih-alih melunakkannya menjadi kebijaksanaan yang menenangkan. Bahasa Tionghoa klasiknya padat dan seimbang — sering hanya empat aksara per klausa — sehingga bahasa Indonesia di sini pun dijaga tetap ringkas dan berjajar, memelihara antitesis (ada dan tiada, kuat dan lemah, betina dan jantan) yang menjadi rangka argumennya.
Beberapa titik memang benar-benar taksa dalam sumbernya, dan edisi ini memilih untuk menjaganya tetap terlihat. Bab 1, misalnya, dapat dibaca "senantiasa tanpa hasrat, seseorang melihat rahasianya" (常無欲) atau, dengan pemenggalan yang berbeda, "senantiasa tanpa, seseorang berhasrat melihat…" (常無,欲); pembaca sepatutnya tahu bahwa yang terbaca di sini adalah satu pilihan di antara dua yang sah. Prinsip edisi ini adalah kesetiaan pada teks di atas keindahan: bila yang asli benar-benar taksa, ketaksaan itu dibiarkan tampak alih-alih diam-diam diselesaikan menjadi bacaan yang lebih merdu.
nama yang dapat dinamai bukanlah nama yang kekal.
Tanpa-nama: awal langit dan bumi;
bernama: ibu sepuluh ribu hal.
Karena itu, dengan tetap tanpa hasrat, seseorang melihat rahasianya;
dengan tetap berhasrat, seseorang melihat batas-batasnya.
Keduanya keluar dari satu sumber namun berbeda nama;
bersama-sama disebut yang gelap.
Gelap dan lebih gelap lagi —
gerbang segala rahasia.
Ketika semua tahu yang baik sebagai baik, di situ sudah ada yang tak baik.
Maka ada dan tiada saling melahirkan,
sukar dan mudah saling menyempurnakan,
panjang dan pendek saling mengukur,
tinggi dan rendah saling memiringkan,
nada dan suara saling menyelaraskan,
depan dan belakang saling mengikuti.
Karena itu sang bijak menetap dalam urusan tanpa-tindakan,
dan menjalankan ajaran tanpa kata.
Sepuluh ribu hal bangkit dan ia tidak menolak;
ia melahirkan namun tidak memiliki,
bertindak namun tidak bersandar padanya,
menyelesaikan karya namun tidak berdiam di dalamnya.
Justru karena ia tidak berdiam di dalamnya, ia tidak pergi.
Jangan menghargai barang yang sukar didapat, maka rakyat tidak menjadi pencuri.
Jangan mempertontonkan yang membangkitkan hasrat, maka hati rakyat tidak kacau.
Karena itu, dalam pemerintahan sang bijak:
ia mengosongkan hati mereka dan mengenyangkan perut mereka,
melemahkan kehendak mereka dan menguatkan tulang mereka.
Ia membuat rakyat senantiasa tanpa pengetahuan dan tanpa hasrat,
dan membuat yang pandai tidak berani bertindak.
Bertindak dengan tanpa-tindakan, maka tak ada yang tidak terperintah.
Sedalam jurang, ia seperti leluhur sepuluh ribu hal.
Ia menumpulkan ketajamannya,
mengurai kekusutannya,
meredam kilaunya,
menyatu dengan debunya.
Bening dan hening, ia seperti ada.
Aku tidak tahu ia anak siapa;
ia mendahului sang Penguasa langit.
mereka memperlakukan sepuluh ribu hal sebagai anjing jerami.
Sang bijak tidak humanistik:
ia memperlakukan seratus keluarga sebagai anjing jerami.
Ruang antara langit dan bumi —
bukankah seperti puputan tukang tempa?
Kosong namun tak pernah kempis,
bergerak dan semakin banyak yang keluar.
Banyak kata cepat sampai buntu;
lebih baik menjaga yang di tengah.
inilah yang disebut betina gelap.
Gerbang betina gelap —
inilah yang disebut akar langit dan bumi.
Samar-samar ia seperti ada;
pakailah, ia tak pernah lelah.
Langit dan bumi dapat lestari dan kekal
karena mereka tidak hidup untuk diri sendiri;
karena itu mereka dapat hidup lama.
Karena itu sang bijak menaruh dirinya di belakang, namun dirinya berada di depan;
ia menaruh dirinya di luar, namun dirinya bertahan.
Bukankah karena ia tanpa kepentingan diri,
justru kepentingannya sendiri terpenuhi?
Air baik menguntungkan sepuluh ribu hal dan tidak berlomba;
ia berdiam di tempat yang dibenci banyak orang,
karena itu ia dekat dengan Jalan.
Dalam kediaman, baiklah tanahnya;
dalam hati, baiklah kedalamannya;
dalam memberi, baiklah kemanusiaannya;
dalam kata, baiklah ketulusannya;
dalam memerintah, baiklah keteraturannya;
dalam urusan, baiklah kesanggupannya;
dalam gerak, baiklah waktunya.
Justru karena ia tidak berlomba, maka tak ada cela padanya.
Menempa hingga tajam ujungnya — tak dapat lama dipertahankan.
Emas dan giok memenuhi ruang — tak seorang pun sanggup menjaganya.
Kaya dan mulia lalu sombong — sendiri menabur celaka.
Setelah karya selesai, dirinya menyingkir:
itulah Jalan langit.
Memusatkan napas hingga lembut — sanggupkah seperti bayi?
Membasuh dan membersihkan penglihatan gelap — sanggupkah tanpa cacat?
Mencintai negeri dan memerintah rakyat — sanggupkah tanpa pengetahuan?
Gerbang langit membuka dan menutup — sanggupkah menjadi betina?
Terang dan tembus ke empat penjuru — sanggupkah tanpa-tindakan?
Melahirkan, memelihara:
melahirkan namun tidak memiliki,
bertindak namun tidak bersandar padanya,
membesarkan namun tidak menguasai.
Inilah yang disebut daya yang gelap.
justru pada yang kosong itulah terletak guna sebuah kereta.
Tanah liat diadon menjadi bejana;
justru pada yang kosong itulah terletak guna sebuah bejana.
Pintu dan jendela dilubangi menjadi ruang;
justru pada yang kosong itulah terletak guna sebuah ruang.
Maka yang ada memberikan keuntungan,
yang tiada memberikan guna.
lima nada memekakkan telinga orang;
lima rasa memuakkan lidah orang;
berpacu dan berburu menggilakan hati orang;
barang yang sukar didapat menghambat langkah orang.
Karena itu sang bijak mengutamakan perut, bukan mata;
maka ia melepas yang itu dan memilih yang ini.
hargai malapetaka besar seperti tubuhmu sendiri.
Apa maksudnya sanjungan dan hinaan sama-sama mengejutkan?
Sanjungan itu rendah:
mendapatkannya mengejutkan, kehilangannya mengejutkan.
Inilah maksud sanjungan dan hinaan sama-sama mengejutkan.
Apa maksudnya hargai malapetaka besar seperti tubuh?
Aku memiliki malapetaka besar karena aku memiliki tubuh.
Sampai aku tak lagi memiliki tubuh, malapetaka apa yang kumiliki?
Maka bagi yang menghargai dunia seperti tubuhnya, dunia dapat dititipkan kepadanya;
bagi yang mencintai dunia seperti tubuhnya, dunia dapat dipercayakan kepadanya.
Didengar namun tak terdengar — namanya yang lirih.
Diraba namun tak tergapai — namanya yang halus.
Ketiganya tak dapat diselidiki hingga tuntas,
karena itu mereka berbaur menjadi satu.
Yang di atasnya tidak menyilaukan,
yang di bawahnya tidak gelap.
Tak putus-putus, ia tak dapat dinamai,
dan kembali lagi ke tanpa-benda.
Inilah yang disebut wujud tanpa wujud,
gambar tanpa benda;
inilah yang disebut yang samar dan kabur.
Menyongsongnya, kau tak melihat kepalanya;
mengikutinya, kau tak melihat ekornya.
Peganglah Jalan zaman dahulu
untuk mengendalikan yang ada pada masa kini.
Sanggup mengenali awal yang purba —
inilah benang Jalan.
halus, cermat, gelap, dan tembus,
dalam hingga tak dapat dikenali.
Justru karena tak dapat dikenali,
maka dengan susah aku menggambarkannya:
berhati-hati, seperti menyeberangi sungai di musim dingin;
waspada, seperti takut pada tetangga di empat penjuru;
khidmat, seperti seorang tamu;
cair, seperti es yang hendak mencair;
bersahaja, seperti kayu yang belum dipahat;
lapang, seperti sebuah lembah;
keruh, seperti air yang berlumpur.
Siapa yang sanggup, dengan diam, membiarkan yang keruh perlahan menjernih?
Siapa yang sanggup, dengan tenang, membiarkan yang diam perlahan bergerak dan hidup?
Yang memegang Jalan ini tidak menghendaki kepenuhan.
Justru karena tidak penuh, ia dapat usang tanpa menjadi baru lagi.
jagalah keheningan dengan teguh.
Sepuluh ribu hal bangkit serentak,
dan dengan itu aku memandang perputarannya.
Segala hal tumbuh subur,
masing-masing kembali ke akarnya.
Kembali ke akar disebut keheningan;
inilah yang disebut pulang ke takdir.
Pulang ke takdir disebut yang kekal;
mengenali yang kekal disebut terang.
Tidak mengenali yang kekal — sembrono bertindak, mendatangkan celaka.
Mengenali yang kekal, seseorang menampung;
menampung, ia adil;
adil, ia utuh;
utuh, ia langit;
langit, ia Jalan;
Jalan, ia lestari.
Sampai tubuh sirna, ia tak terancam bahaya.
Yang berikutnya: mereka mendekat dan memujinya.
Yang berikutnya: mereka takut padanya.
Yang berikutnya: mereka menghinanya.
Bila kepercayaan tidak cukup, di situ ada ketidakpercayaan.
Betapa hati-hati ia menghargai kata!
Karya selesai, urusan terlaksana,
dan seratus keluarga semua berkata: kami begini seperti adanya sendiri.
Ketika kecerdikan dan kepandaian tampil, muncullah kepalsuan besar.
Ketika enam pertalian keluarga tidak rukun, muncullah bakti dan kasih sayang.
Ketika negeri dan keluarga kacau gelap, muncullah menteri yang setia.
maka rakyat untung seratus kali lipat.
Putuskan kemanusiaan, buang kebenaran,
maka rakyat kembali pada bakti dan kasih sayang.
Putuskan kepiawaian, buang keuntungan,
maka pencuri dan perampok tak ada lagi.
Ketiganya, dijadikan hiasan kata, tidak cukup;
karena itu biarkan ada tempat mereka berpaut:
tampakkan yang polos dan peluk kayu yang belum dipahat,
kurangi kepentingan diri dan tipiskan hasrat.
Antara "ya" dan "sudah begitu" — berapa jauh jaraknya?
Antara yang baik dan yang buruk — seberapa jauh bedanya?
Yang ditakuti orang tak boleh tidak ditakuti.
Betapa luas, dan tak ada ujungnya!
Orang ramai bergembira,
seolah menikmati jamuan besar,
seolah mendaki menara di musim semi.
Aku sendiri tenang, tak menunjukkan tanda,
seperti bayi yang belum bisa tertawa;
lelah dan lesu, seolah tak punya tempat pulang.
Orang ramai semua berlebih,
dan aku sendiri seolah kehilangan.
Sungguh hatiku hati orang bodoh — betapa keruhnya!
Orang awam terang benderang,
aku sendiri gelap remang.
Orang awam tajam meneliti,
aku sendiri tumpul dan membisu.
Bergolak, aku seperti laut;
bertiup, aku seperti tanpa henti.
Orang ramai semua punya guna,
dan aku sendiri keras kepala serta seperti hina.
Aku sendiri berbeda dari orang lain:
aku menghargai memakan dari sang ibu.
hanya mengikuti Jalan.
Jalan sebagai benda
hanyalah samar, hanyalah kabur.
Kabur dan samar — di dalamnya ada gambar;
samar dan kabur — di dalamnya ada benda.
Dalam dan gelap — di dalamnya ada sari;
sarinya sungguh nyata, di dalamnya ada kepercayaan.
Dari kini hingga zaman purba,
namanya tidak pergi,
dan dengannya kita menyaksikan asal segala hal.
Bagaimana aku tahu keadaan asal segala hal?
Dengan ini.
yang melengkung akan lurus,
yang cekung akan penuh,
yang usang akan baru,
yang sedikit akan mendapat,
yang banyak akan bingung.
Karena itu sang bijak memeluk yang satu
dan menjadi ukuran bagi dunia.
Ia tidak memandang dirinya sendiri, maka ia terang.
Ia tidak membenarkan dirinya sendiri, maka ia nyata.
Ia tidak menyombongkan dirinya sendiri, maka ia berhasil.
Ia tidak memuji dirinya sendiri, maka ia bertahan.
Justru karena ia tidak berlomba,
maka tak ada di dunia yang sanggup berlomba dengannya.
Yang dikatakan orang dahulu, "yang bengkok akan utuh" —
bagaimana mungkin itu kata kosong?
Sungguh, dalam keutuhan ia kembali.
Maka angin ribut tidak bertahan sepagi penuh,
hujan lebat tidak bertahan sehari penuh.
Siapa yang membuatnya begitu? Langit dan bumi.
Bahkan langit dan bumi tak dapat membuatnya lama,
apalagi manusia?
Maka orang yang menyertai urusan menurut Jalan:
yang menempuh Jalan menyatu dengan Jalan,
yang berdaya menyatu dengan daya,
yang kehilangan menyatu dengan kehilangan.
Yang menyatu dengan Jalan, Jalan pun senang menerimanya;
yang menyatu dengan daya, daya pun senang menerimanya;
yang menyatu dengan kehilangan, kehilangan pun senang menerimanya.
Bila kepercayaan tidak cukup, di situ ada ketidakpercayaan.
yang mengangkang tidak berjalan jauh.
Yang memandang dirinya sendiri tidak terang;
yang membenarkan dirinya sendiri tidak nyata;
yang menyombongkan dirinya sendiri tidak berhasil;
yang memuji dirinya sendiri tidak bertahan.
Dalam Jalan, hal-hal ini disebut sisa makanan dan tindakan yang berlebih;
segala hal mungkin membencinya,
maka yang memegang Jalan tidak berdiam padanya.
lahir mendahului langit dan bumi.
Sunyi, hampa!
Ia berdiri sendiri dan tidak berubah,
berputar tanpa henti,
dan dapat menjadi ibu bagi dunia.
Aku tidak tahu namanya;
kuberi ia gelar "Jalan",
dan dengan susah kunamai ia "yang besar".
Besar berarti berlalu,
berlalu berarti menjauh,
menjauh berarti kembali.
Maka Jalan besar, langit besar, bumi besar, dan raja pun besar.
Di dalam wilayah ada empat yang besar, dan raja menempati salah satunya.
Manusia mengikut hukum bumi,
bumi mengikut hukum langit,
langit mengikut hukum Jalan,
dan Jalan mengikut hukum apa yang seperti adanya sendiri.
yang tenang adalah tuan bagi yang gelisah.
Karena itu sang bijak sepanjang hari berjalan tanpa meninggalkan kereta bebannya.
Meski ada pemandangan yang gemerlap,
ia berdiam tenang, melampauinya.
Bagaimana mungkin tuan sepuluh ribu kereta
memandang ringan dirinya di hadapan dunia?
Ringan, ia kehilangan akar;
gelisah, ia kehilangan singgasana.
yang pandai berkata tak bercela;
yang pandai berhitung tak memakai batang lidi;
yang pandai menutup tak memakai palang namun tak dapat dibuka;
yang pandai mengikat tak memakai tali namun tak dapat diurai.
Karena itu sang bijak senantiasa pandai menolong manusia,
maka tak ada manusia yang dibuang;
senantiasa pandai menolong benda,
maka tak ada benda yang dibuang.
Inilah yang disebut mewarisi terang.
Maka orang yang baik adalah guru bagi orang yang tidak baik,
dan orang yang tidak baik adalah bahan bagi orang yang baik.
Yang tidak menghargai gurunya,
yang tidak menyayangi bahannya,
meski cerdik, ia tersesat jauh.
Inilah yang disebut rahasia yang pokok.
jadilah ngarai bagi dunia.
Menjadi ngarai bagi dunia,
daya yang kekal tak berpisah darinya,
dan ia kembali ke keadaan bayi.
Kenali yang putih, jaga yang hitam,
jadilah ukuran bagi dunia.
Menjadi ukuran bagi dunia,
daya yang kekal tak menyimpang,
dan ia kembali ke yang tanpa batas.
Kenali kemuliaan, jaga kehinaan,
jadilah lembah bagi dunia.
Menjadi lembah bagi dunia,
daya yang kekal barulah cukup,
dan ia kembali ke kayu yang belum dipahat.
Kayu yang belum dipahat itu, bila dipecah, menjadi perkakas.
Sang bijak memakainya, maka ia menjadi kepala para pejabat.
Maka penataan yang besar tidak memotong.
kulihat ia tak akan berhasil.
Dunia adalah wadah keramat,
yang tak dapat diperlakukan sekehendak.
Yang bertindak atasnya merusaknya;
yang menggenggamnya kehilangannya.
Maka segala hal:
ada yang maju, ada yang mengikuti;
ada yang mengembus lembut, ada yang meniup keras;
ada yang kuat, ada yang lemah;
ada yang tumbuh, ada yang runtuh.
Karena itu sang bijak melepas yang berlebihan,
melepas yang mewah,
melepas yang melampaui batas.
tidak memakai senjata untuk memaksakan diri atas dunia.
Urusan seperti itu cenderung berbalik.
Di tempat pasukan berkemah, tumbuhlah duri dan onak.
Setelah bala tentara besar, pasti datang tahun malapetaka.
Yang pandai hanya mencapai hasil, lalu berhenti;
ia tidak berani memakai kekuatan untuk memaksa.
Mencapai hasil namun tidak menyombong,
mencapai hasil namun tidak membanggakan,
mencapai hasil namun tidak angkuh,
mencapai hasil hanya karena terpaksa,
mencapai hasil namun tidak memaksa.
Segala yang kuat lalu menjadi tua:
inilah yang disebut melawan Jalan;
yang melawan Jalan cepat berakhir.
segala hal mungkin membencinya,
maka yang memegang Jalan tidak berdiam padanya.
Seorang budiman, dalam kediaman, menghargai sisi kiri;
dalam memakai senjata, ia menghargai sisi kanan.
Senjata adalah alat celaka, bukan alat seorang budiman;
hanya karena terpaksa ia memakainya,
dan ketenangan yang hambar adalah yang tertinggi.
Menang namun tidak menganggapnya indah;
yang menganggapnya indah bersukacita membunuh manusia.
Barangsiapa bersukacita membunuh manusia
tak akan sanggup memenuhi kehendaknya atas dunia.
Dalam peristiwa yang membahagiakan, sisi kiri diutamakan;
dalam peristiwa yang membawa duka, sisi kanan diutamakan.
Panglima muda menempati sisi kiri,
panglima tua menempati sisi kanan —
artinya, ini ditangani dengan tata cara berkabung.
Bila membunuh banyak manusia,
ratapi dengan duka dan air mata;
setelah menang perang, tangani dengan tata cara berkabung.
Kayu yang belum dipahat itu, meski kecil,
tak seorang pun di dunia sanggup menaklukkannya.
Bila para raja dan bangsawan sanggup memegangnya,
sepuluh ribu hal akan tunduk dengan sendirinya.
Langit dan bumi bersatu-padu,
menurunkan embun manis,
dan rakyat, tanpa diperintah, menjadi rata dengan sendirinya.
Ketika penataan dimulai, muncullah nama;
setelah nama ada,
seseorang pun harus tahu berhenti.
Tahu berhenti, itulah cara terhindar dari bahaya.
Umpamakan Jalan di dunia
seperti sungai dan lembah yang mengalir ke sungai besar dan lautan.
yang mengenal dirinya sendiri itu terang.
Yang mengalahkan manusia lain itu kuat;
yang mengalahkan dirinya sendiri itu perkasa.
Yang tahu cukup itu kaya;
yang bertindak dengan gigih itu berkehendak.
Yang tidak kehilangan tempatnya itu lestari;
yang mati namun tidak lenyap itu berumur panjang.
ia dapat ke kiri dan ke kanan.
Sepuluh ribu hal bersandar padanya untuk hidup, dan ia tidak menolak;
ia menyelesaikan karya namun tidak menuntut nama.
Ia menyandangi dan memelihara sepuluh ribu hal namun tidak menjadi tuan;
senantiasa tanpa hasrat, ia dapat dinamai yang kecil.
Sepuluh ribu hal kembali kepadanya namun ia tidak menjadi tuan;
ia dapat dinamai yang besar.
Justru karena ia sampai akhir tidak menganggap dirinya besar,
maka ia dapat menyempurnakan kebesarannya.
dan dunia pun datang.
Datang tanpa mendapat celaka,
tenteram, damai, dan lapang.
Musik dan santapan
membuat pengembara yang lewat berhenti.
Namun Jalan, keluar dari mulut,
begitu hambar, seolah tak berasa.
Dipandang, tak cukup untuk dilihat;
didengar, tak cukup untuk didengar;
dipakai, tak pernah habis.
Yang hendak dilemahkan mesti terlebih dahulu dikuatkan.
Yang hendak diruntuhkan mesti terlebih dahulu ditegakkan.
Yang hendak dirampas mesti terlebih dahulu diberi.
Inilah yang disebut terang yang halus.
Yang lembut dan lemah mengalahkan yang keras dan kuat.
Ikan tak boleh lepas dari lubuknya;
alat tajam sebuah negeri tak boleh dipertontonkan kepada orang.
namun tak ada yang tidak dilakukannya.
Bila para raja dan bangsawan sanggup memegangnya,
sepuluh ribu hal akan berubah dengan sendirinya.
Bila, dalam berubah, hasrat itu bangkit,
aku akan meredamnya dengan kayu tanpa-nama yang belum dipahat.
Kayu tanpa-nama yang belum dipahat
juga akan menjadi tanpa hasrat.
Tanpa hasrat, dalam keheningan,
dunia akan tenang dengan sendirinya.
karena itu ia berdaya.
Daya yang rendah tidak melepaskan lagak daya,
karena itu ia tanpa daya.
Daya yang tinggi bertindak tanpa-tindakan dan tanpa maksud terselubung;
daya yang rendah bertindak dan punya maksud terselubung.
Kemanusiaan yang tinggi bertindak namun tanpa maksud terselubung;
kebenaran yang tinggi bertindak dan punya maksud terselubung.
Adat-tata yang tinggi bertindak, dan bila tak ada yang menyambut,
ia menyingsingkan lengan dan menyeret orang ke dalamnya.
Maka: setelah Jalan hilang, barulah ada daya;
setelah daya hilang, barulah ada kemanusiaan;
setelah kemanusiaan hilang, barulah ada kebenaran;
setelah kebenaran hilang, barulah ada adat-tata.
Adat-tata itu adalah kulit tipis kesetiaan dan kepercayaan,
dan awal dari kekacauan.
Pengetahuan yang mendahului adalah bunga Jalan,
dan awal dari kebodohan.
Karena itu seorang besar berdiam dalam yang tebal, bukan yang tipis;
berdiam dalam yang berisi, bukan yang berbunga.
Maka ia melepas yang itu dan memilih yang ini.
langit memperoleh yang satu, maka ia jernih;
bumi memperoleh yang satu, maka ia tenteram;
roh memperoleh yang satu, maka ia berdaya gaib;
lembah memperoleh yang satu, maka ia penuh;
sepuluh ribu hal memperoleh yang satu, maka mereka hidup;
raja dan bangsawan memperoleh yang satu, maka mereka menjadi penegak dunia.
Semua ini dari yang satu.
Bila langit tak jernih, ia mungkin retak;
bila bumi tak tenteram, ia mungkin meletus;
bila roh tak berdaya gaib, ia mungkin lenyap;
bila lembah tak penuh, ia mungkin kering;
bila sepuluh ribu hal tak hidup, mereka mungkin punah;
bila raja dan bangsawan tak mulia dan tinggi, mereka mungkin tumbang.
Maka yang mulia berakar pada yang hina,
yang tinggi berdasar pada yang rendah.
Karena itu raja dan bangsawan menyebut diri "yatim", "papa", "tak bermutu".
Bukankah ini berakar pada yang hina? Bukankah begitu?
Maka hitunglah kehormatan hingga tak ada kehormatan.
Jangan berkilau bagai giok,
melainkan padat kasar bagai batu.
lemah adalah guna Jalan.
Sepuluh ribu hal di dunia lahir dari yang ada,
dan yang ada lahir dari yang tiada.
dengan tekun ia menjalankannya.
Cendekiawan menengah mendengar Jalan,
seolah ada, seolah tiada.
Cendekiawan rendah mendengar Jalan,
ia terbahak menertawakannya.
Bila tak ditertawakan, ia tak cukup untuk menjadi Jalan.
Maka ada perkataan yang tertegakkan:
Jalan yang terang seolah remang;
Jalan yang maju seolah surut;
Jalan yang rata seolah berjonjot;
daya yang tinggi seolah lembah;
yang putih besar seolah bernoda;
daya yang luas seolah tak cukup;
daya yang tegak seolah dicuri;
kebenaran yang murni seolah berubah;
yang persegi besar tanpa sudut;
bejana besar lambat sempurna;
nada besar tipis bunyinya;
gambar besar tanpa wujud.
Jalan tersembunyi, tanpa-nama.
Justru Jalan-lah yang pandai memberi dan menyempurnakan.
yang satu melahirkan yang dua;
yang dua melahirkan yang tiga;
yang tiga melahirkan sepuluh ribu hal.
Sepuluh ribu hal memikul yin dan memeluk yang,
dan dengan napas yang menyatukan mereka mencapai keselarasan.
Yang dibenci orang hanyalah "yatim", "papa", "tak bermutu",
namun raja dan bangsawan memakainya sebagai gelar.
Maka segala hal:
mungkin dikurangi lalu bertambah,
mungkin ditambah lalu berkurang.
Apa yang diajarkan orang, aku pun mengajarkannya:
"Yang keras dan bengis tidak mati wajar."
Ini kujadikan bapak segala ajaran.
memacu yang paling keras di dunia.
Yang tanpa-wujud masuk ke yang tanpa-celah;
dengan itu aku tahu manfaat tanpa-tindakan.
Ajaran tanpa kata,
manfaat tanpa-tindakan —
sedikit di dunia yang sampai kepadanya.
Tubuh atau harta — mana yang lebih banyak?
Mendapat atau kehilangan — mana yang lebih sakit?
Karena itu, cinta yang berlebihan pasti mahal biayanya;
timbunan yang banyak pasti berat kehilangannya.
Tahu cukup, seseorang tak dipermalukan;
tahu berhenti, seseorang tak terancam bahaya,
dan dapat bertahan lama.
namun gunanya tak pernah rusak.
Kepenuhan besar seolah kosong,
namun gunanya tak pernah habis.
Kelurusan besar seolah bengkok;
kepiawaian besar seolah canggung;
kefasihan besar seolah gagap.
Gerakan mengalahkan dingin,
keheningan mengalahkan panas.
Kejernihan dan keheningan adalah penegak dunia.
kuda-kuda pacu dikembalikan untuk memupuk ladang.
Ketika dunia tanpa Jalan,
kuda-kuda perang beranak di perbatasan.
Tak ada malapetaka lebih besar daripada tidak tahu cukup;
tak ada cela lebih besar daripada hasrat untuk memperoleh.
Maka cukupnya orang yang tahu cukup
adalah kecukupan yang kekal.
Tanpa mengintip lewat jendela, seseorang melihat Jalan langit.
Semakin jauh ia keluar,
semakin sedikit ia tahu.
Karena itu sang bijak mengenal tanpa berjalan,
menamai tanpa melihat,
menyelesaikan tanpa bertindak.
Menempuh Jalan, seseorang berkurang setiap hari.
Berkurang dan berkurang lagi,
hingga sampai pada tanpa-tindakan.
Tanpa-tindakan, namun tak ada yang tidak dilakukan.
Merebut dunia senantiasa dengan tanpa urusan;
begitu ada urusan,
itu tak cukup untuk merebut dunia.
ia menjadikan hati seratus keluarga sebagai hatinya.
Yang baik, kuperlakukan dengan baik;
yang tidak baik, kuperlakukan pula dengan baik:
inilah daya kebaikan.
Yang tulus, kupercaya;
yang tidak tulus, kupercaya pula:
inilah daya kepercayaan.
Sang bijak, di dunia, menahan diri, menyerap;
demi dunia ia mengeruhkan hatinya.
Seratus keluarga semua mengarahkan telinga dan mata mereka kepadanya,
dan sang bijak memperlakukan mereka semua seperti anak-anak.
Rekan hidup: tiga dari sepuluh.
Rekan mati: tiga dari sepuluh.
Manusia yang, dalam hidupnya, bergerak ke medan kematian:
juga tiga dari sepuluh.
Mengapa demikian?
Karena mereka terlalu bergiat menghidupi hidup.
Konon, orang yang pandai memelihara hidup
berjalan di darat tak bertemu badak atau harimau,
masuk ke pasukan tak dilukai senjata:
badak tak menemukan tempat menghunjamkan culanya,
harimau tak menemukan tempat menancapkan cakarnya,
senjata tak menemukan tempat menikamkan matanya.
Mengapa demikian?
Karena pada dirinya tak ada medan kematian.
daya memeliharanya,
benda membentuknya,
keadaan menyempurnakannya.
Karena itu tak ada satu pun dari sepuluh ribu hal
yang tidak menghormati Jalan dan menghargai daya.
Kehormatan Jalan dan kehargaan daya
tidak diperintahkan oleh siapa pun,
melainkan senantiasa seperti adanya sendiri.
Maka Jalan melahirkan, daya memelihara:
ia membesarkan dan mengasuh,
menegakkan dan mematangkan,
merawat dan melindungi.
Ia melahirkan namun tidak memiliki,
bertindak namun tidak bersandar padanya,
membesarkan namun tidak menguasai.
Inilah yang disebut daya yang gelap.
yang menjadi ibu bagi dunia.
Setelah memperoleh ibunya,
seseorang mengenali anaknya;
setelah mengenali anaknya,
ia kembali menjaga ibunya,
dan sampai tubuhnya sirna ia tak terancam bahaya.
Sumbat mulutmu,
tutup pintumu,
dan sepanjang hidup kau tak akan lelah.
Buka mulutmu,
tuntaskan urusanmu,
dan sepanjang hidup kau tak akan tertolong.
Melihat yang kecil disebut terang;
menjaga yang lembut disebut kuat.
Pakailah cahayanya,
lalu pulanglah ke terangnya.
Jangan tinggalkan bencana bagi dirimu:
inilah yang disebut mewarisi yang kekal.
dan menempuh Jalan yang agung,
yang kutakuti hanyalah menyimpang.
Jalan yang agung begitu rata,
namun rakyat menyukai jalan pintas.
Istana begitu bersih tersapu,
ladang begitu terlantar,
lumbung begitu kosong;
mereka mengenakan sutra bercorak,
menyandang pedang tajam,
kenyang oleh makan dan minum,
dan harta benda berlimpah-limpah.
Inilah kesombongan seorang perampok.
Sungguh, ini bukan Jalan!
yang pandai memeluk tak terlepas;
maka anak-cucu takkan berhenti memberi persembahan.
Tempa ia dalam diri, maka dayanya menjadi nyata.
Tempa ia dalam keluarga, maka dayanya menjadi berlebih.
Tempa ia dalam kampung, maka dayanya bertahan lama.
Tempa ia dalam negeri, maka dayanya menjadi limpah.
Tempa ia dalam dunia, maka dayanya menjadi merata.
Maka dengan diri, pandanglah diri;
dengan keluarga, pandanglah keluarga;
dengan kampung, pandanglah kampung;
dengan negeri, pandanglah negeri;
dengan dunia, pandanglah dunia.
Bagaimana aku tahu keadaan dunia begitu?
Dengan ini.
dapat diumpamakan dengan bayi merah.
Lebah, kalajengking, dan ular berbisa tak menyengatnya;
binatang buas tak mencengkeramnya;
burung pemangsa tak menerkamnya.
Tulangnya lemah, uratnya lembut, namun genggamannya kuat.
Ia belum mengenal persatuan betina dan jantan,
namun kejantanannya utuh:
inilah puncak sari kehidupan.
Sepanjang hari ia menjerit tanpa serak:
inilah puncak keselarasan.
Mengenali keselarasan disebut yang kekal;
mengenali yang kekal disebut terang.
Menambah-nambah hidup disebut membawa celaka;
hati yang memaksa napas disebut memaksakan diri.
Segala yang kuat lalu menjadi tua:
inilah yang disebut melawan Jalan;
yang melawan Jalan cepat berakhir.
yang berkata tidak tahu.
Sumbat mulutmu,
tutup pintumu,
tumpulkan ketajamanmu,
uraikan kekusutanmu,
redam kilaumu,
menyatulah dengan debumu:
inilah yang disebut kesatuan yang gelap.
Maka ia tak dapat didekati,
tak dapat dijauhi;
tak dapat diuntungkan,
tak dapat dicelakai;
tak dapat dimuliakan,
tak dapat dihinakan.
Karena itu ia menjadi yang paling mulia di dunia.
dengan yang tak terduga, pakailah senjata;
dengan tanpa urusan, rebutlah dunia.
Bagaimana aku tahu itu begitu? Dengan ini.
Semakin banyak larangan dan pantangan di dunia,
semakin miskin rakyat.
Semakin banyak alat tajam di tangan rakyat,
semakin kalut negeri dan keluarga.
Semakin banyak kepiawaian dan kelicikan orang,
semakin bermunculan barang-barang aneh.
Semakin terang hukum dan perintah,
semakin banyak pencuri dan perampok.
Karena itu sang bijak berkata:
"Aku tanpa-tindakan, dan rakyat berubah dengan sendirinya.
Aku menyukai keheningan, dan rakyat lurus dengan sendirinya.
Aku tanpa urusan, dan rakyat kaya dengan sendirinya.
Aku tanpa hasrat, dan rakyat menjadi bersahaja dengan sendirinya."
rakyatnya jujur-lugu.
Ketika pemerintahannya tajam-meneliti,
rakyatnya cacat dan kekurangan.
Malapetaka — di situ bertumpu keberuntungan;
keberuntungan — di situ mengendap malapetaka.
Siapa yang tahu ujungnya?
Tak ada yang lurus.
Yang lurus berbalik menjadi ganjil;
yang baik berbalik menjadi jahat.
Kesesatan manusia — sungguh telah lama harinya.
Karena itu sang bijak persegi namun tidak memotong,
bersudut namun tidak melukai,
lurus namun tidak sewenang-wenang,
bercahaya namun tidak menyilaukan.
tak ada yang seperti berhemat.
Justru dengan berhemat,
inilah yang disebut tunduk lebih dini.
Tunduk lebih dini disebut menimbun daya berlipat-lipat.
Menimbun daya berlipat-lipat, maka tak ada yang tak teratasi.
Tak ada yang tak teratasi, maka tak ada yang tahu batasnya.
Tak ada yang tahu batasnya, maka ia dapat memiliki sebuah negeri.
Memiliki ibu sebuah negeri, ia dapat bertahan lama.
Inilah yang disebut akar yang dalam dan tunjang yang teguh,
Jalan hidup yang panjang dan pandang yang lestari.
seperti memasak ikan kecil.
Bila dunia didekati menurut Jalan,
arwahnya tak berdaya gaib.
Bukan arwahnya tak berdaya gaib,
melainkan daya gaibnya tak melukai manusia.
Bukan hanya daya gaibnya tak melukai manusia,
sang bijak pun tak melukai manusia.
Karena keduanya tak saling melukai,
maka daya berbalik menyatu kepada keduanya.
tempat bertemunya dunia,
betina bagi dunia.
Betina senantiasa mengalahkan jantan dengan keheningan;
dengan keheningan ia menempati yang di bawah.
Maka negeri besar yang merendah kepada negeri kecil
memenangkan negeri kecil;
negeri kecil yang merendah kepada negeri besar
memenangkan negeri besar.
Maka yang satu merendah untuk memenangkan,
yang lain merendah lalu dimenangkan.
Negeri besar hanya ingin merangkul dan mengasuh manusia;
negeri kecil hanya ingin masuk dan mengabdi manusia.
Agar keduanya memperoleh yang mereka kehendaki,
yang besar sepatutnya merendah.
harta bagi orang yang baik,
perlindungan bagi orang yang tidak baik.
Kata yang indah dapat menjadi dagangan;
tindakan yang mulia dapat ditambahkan pada orang.
Bila seseorang tidak baik,
mengapa ia mesti dibuang?
Maka ketika seorang putra langit ditegakkan
dan tiga menteri agung dilantik,
meski ada giok berhadapan yang mendahului empat kuda,
itu tak sebanding dengan duduk dan mempersembahkan Jalan ini.
Mengapa orang dahulu menghargai Jalan ini?
Bukankah dikatakan: dengan mencari, seseorang memperoleh;
bila bersalah, ia terbebas?
Karena itu Jalan menjadi yang paling mulia di dunia.
berurusan dengan tanpa-urusan,
merasakan dengan tanpa-rasa.
Anggap yang besar kecil, yang banyak sedikit;
balas dendam dengan daya.
Rencanakan yang sukar selagi mudah;
kerjakan yang besar selagi kecil.
Urusan sukar di dunia pasti bermula dari yang mudah;
urusan besar di dunia pasti bermula dari yang kecil.
Karena itu sang bijak sampai akhir tidak bertindak besar,
maka ia dapat menyempurnakan kebesarannya.
Janji yang gampang pasti sedikit kepercayaannya;
terlalu banyak yang dianggap mudah pasti banyak sukarnya.
Karena itu sang bijak justru menganggapnya sukar,
maka sampai akhir ia tak menemui kesukaran.
yang belum bertanda mudah dirancang;
yang rapuh mudah dipecahkan;
yang halus mudah diceraikan.
Tanganilah sebelum ia ada;
tatalah sebelum ia kacau.
Pohon sepelukan tumbuh dari tunas sehalus rambut;
menara sembilan lapis bangkit dari seonggok tanah;
perjalanan seribu li dimulai dari satu langkah di bawah kaki.
Yang bertindak atasnya merusaknya;
yang menggenggamnya kehilangannya.
Karena itu sang bijak tidak bertindak, maka ia tidak merusak;
tidak menggenggam, maka ia tidak kehilangan.
Rakyat, dalam mengerjakan urusan,
sering merusaknya menjelang selesai.
Berhati-hatilah pada akhir seperti pada awal,
maka tak ada urusan yang rusak.
Karena itu sang bijak berhasrat untuk tanpa-hasrat,
dan tidak menghargai barang yang sukar didapat;
ia belajar untuk tanpa-pembelajaran,
dan kembali ke tempat yang dilewati orang ramai.
Dengan itu ia menopang apa yang seperti adanya sendiri pada sepuluh ribu hal,
dan tidak berani bertindak.
tidak memakainya untuk mencerdaskan rakyat,
melainkan untuk membuat mereka bersahaja.
Rakyat sukar diperintah karena kecerdikan mereka banyak.
Maka memerintah negeri dengan kecerdikan adalah perusak negeri;
tidak memerintah negeri dengan kecerdikan adalah berkah negeri.
Mengenali kedua hal ini adalah pula sebuah ukuran.
Senantiasa mengenali ukuran itu
disebut daya yang gelap.
Daya yang gelap begitu dalam, begitu jauh,
berbalik arah bersama segala hal;
barulah setelah itu ia sampai pada keselarasan yang agung.
karena mereka pandai menempatkan diri di bawahnya;
karena itu mereka dapat menjadi raja atas seratus lembah.
Karena itu, untuk berada di atas rakyat,
seseorang mesti menempatkan diri di bawah dengan kata-katanya;
untuk berada di depan rakyat,
seseorang mesti menempatkan diri di belakang dengan tubuhnya.
Karena itu sang bijak berada di atas, namun rakyat tidak merasa terbebani;
berada di depan, namun rakyat tidak merasa dicelakai.
Karena itu seluruh dunia dengan senang mengangkatnya dan tidak jemu.
Justru karena ia tidak berlomba,
maka tak ada di dunia yang sanggup berlomba dengannya.
seolah tak menyerupai apa pun.
Justru karena ia besar, maka ia seolah tak menyerupai apa pun.
Andai ia menyerupai sesuatu,
sudah lama tentu ia menjadi kecil!
Aku memiliki tiga harta
yang kupegang dan kujaga:
yang pertama adalah kasih;
yang kedua adalah hemat;
yang ketiga adalah tidak berani menjadi yang terdepan di dunia.
Karena berkasih, aku dapat berani;
karena berhemat, aku dapat lapang;
karena tidak berani menjadi yang terdepan di dunia,
aku dapat menjadi kepala segala perkakas.
Kini, membuang kasih namun ingin berani,
membuang hemat namun ingin lapang,
membuang yang di belakang namun ingin di depan —
itulah kematian!
Karena kasih, dalam bertempur seseorang menang;
dalam bertahan seseorang teguh.
Ketika langit hendak menyelamatkan seseorang,
dengan kasih ia mengawalnya.
Yang pandai bertempur tidak murka.
Yang pandai mengalahkan musuh tidak menghadapinya langsung.
Yang pandai memakai manusia menempatkan diri di bawah mereka.
Inilah yang disebut daya tanpa perlombaan;
inilah yang disebut memakai kekuatan manusia;
inilah yang disebut sepadan dengan langit — puncak zaman purba.
"Aku tidak berani menjadi tuan rumah, melainkan menjadi tamu;
tidak berani maju seinci, melainkan mundur sehasta."
Inilah yang disebut
berbaris tanpa barisan,
menyingsingkan lengan tanpa lengan,
menghadapi tanpa musuh,
menggenggam tanpa senjata.
Tak ada malapetaka lebih besar daripada memandang enteng musuh;
memandang enteng musuh nyaris melenyapkan hartaku.
Maka ketika dua pasukan berhadapan sama kuat,
yang berduka yang menang.
namun tak seorang pun di dunia sanggup memahaminya,
tak seorang pun sanggup menjalankannya.
Kata-kata punya leluhur,
urusan punya tuan.
Justru karena mereka tak paham,
maka mereka tak memahamiku.
Sedikit yang mengenaliku,
maka aku menjadi berharga.
Karena itu sang bijak mengenakan pakaian kasar,
namun dalam dadanya ia memeluk giok.
Tidak tahu namun berlaku seolah tahu — itu penyakit.
Justru dengan menganggap penyakit sebagai penyakit,
seseorang terhindar dari penyakit.
Sang bijak tak berpenyakit
karena ia menganggap penyakit sebagai penyakit;
maka ia tak berpenyakit.
maka kekuasaan yang lebih besar akan tiba.
Jangan sesakkan tempat kediaman mereka;
jangan tindas cara hidup mereka.
Justru karena kau tidak menindas,
maka mereka tidak jemu.
Karena itu sang bijak mengenal dirinya, namun tidak mempertontonkan dirinya;
menyayangi dirinya, namun tidak memuliakan dirinya.
Maka ia melepas yang itu dan memilih yang ini.
yang berani dalam tidak nekat akan hidup.
Dari kedua hal ini,
yang satu menguntungkan, yang lain mencelakai.
Apa yang dibenci langit — siapa yang tahu sebabnya?
Karena itu bahkan sang bijak menganggapnya sukar.
Jalan langit:
tidak berlomba, namun pandai menang;
tidak berkata, namun pandai menyahut;
tidak memanggil, namun segala datang dengan sendirinya;
lapang dan lambat, namun pandai merancang.
Jaring langit begitu luas,
renggang namun tak ada yang lolos.
bagaimana mungkin menakut-nakuti mereka dengan kematian?
Andai rakyat senantiasa takut mati,
dan seseorang berbuat ganjil,
maka aku dapat menangkap dan membunuhnya —
siapa yang berani?
Senantiasa ada Sang Pembunuh yang membunuh.
Menggantikan Sang Pembunuh untuk membunuh
adalah seperti menggantikan tukang kayu ulung untuk memahat.
Barangsiapa menggantikan tukang kayu ulung untuk memahat
jarang tidak melukai tangannya sendiri.
karena penguasa di atas memungut terlalu banyak pajak dari makanan mereka;
karena itu mereka kelaparan.
Rakyat sukar diperintah
karena penguasa di atas terlalu banyak bertindak;
karena itu mereka sukar diperintah.
Rakyat memandang enteng kematian
karena penguasa di atas terlalu bergiat mencari kehidupan;
karena itu mereka memandang enteng kematian.
Justru yang tidak menjadikan hidup sebagai tujuan
lebih bijaksana daripada yang menghargai hidup.
ketika mati, keras dan kaku.
Sepuluh ribu hal, rumput, dan pepohonan, ketika hidup, lembut dan rapuh;
ketika mati, kering dan layu.
Maka yang keras dan kuat adalah rekan kematian;
yang lembut dan lemah adalah rekan kehidupan.
Karena itu pasukan yang kuat tidak menang;
pohon yang kuat ditebang.
Yang kuat dan besar menempati yang di bawah;
yang lembut dan lemah menempati yang di atas.
Yang tinggi ditekan turun,
yang rendah diangkat naik;
yang berlebih dikurangi,
yang kurang ditambah.
Jalan langit mengurangi yang berlebih
dan menambah yang kurang.
Jalan manusia tidaklah begitu:
ia mengurangi yang kurang untuk melayani yang berlebih.
Siapa yang sanggup dengan yang berlebih melayani dunia?
Hanya orang yang memegang Jalan.
Karena itu sang bijak bertindak namun tidak bersandar padanya,
menyelesaikan karya namun tidak berdiam di dalamnya.
Ia tidak berhasrat mempertontonkan kecakapannya.
namun dalam menyerang yang keras dan kuat,
tak ada yang sanggup mengalahkannya,
karena tak ada yang dapat menggantikannya.
Yang lemah mengalahkan yang kuat,
yang lembut mengalahkan yang keras:
tak seorang pun di dunia yang tidak tahu,
namun tak seorang pun sanggup menjalankannya.
Karena itu sang bijak berkata:
"Yang menanggung aib sebuah negeri
disebut tuan mezbah tanah dan biji-bijian;
yang menanggung malapetaka sebuah negeri
disebut raja dunia."
Kata yang lurus seolah berbalik.
pasti menyisakan sisa dendam;
bagaimana itu dapat dianggap baik?
Karena itu sang bijak memegang bagian kiri surat perjanjian,
namun tidak menuntut orang lain.
Yang berdaya mengurus perjanjian;
yang tanpa daya mengurus penagihan.
Jalan langit tak berpihak,
namun senantiasa menyertai orang yang baik.
Biarlah ada perkakas untuk sepuluh atau seratus orang, namun tak dipakai.
Buatlah rakyat memandang berat kematian dan tidak mengembara jauh.
Meski ada perahu dan kereta, tak ada tempat menaikinya;
meski ada baju zirah dan senjata, tak ada tempat menjajarkannya.
Buatlah rakyat kembali memakai tali bersimpul dan memakainya.
Manisnya makanan mereka,
indahnya pakaian mereka,
tenteramnya kediaman mereka,
gembiranya adat mereka.
Negeri tetangga saling memandang,
suara ayam dan anjing saling terdengar,
namun rakyat, hingga tua dan mati,
tak saling berkunjung.
kata yang indah tidak tulus.
Yang baik tidak berdebat;
yang berdebat tidak baik.
Yang tahu tidak berpengetahuan luas;
yang berpengetahuan luas tidak tahu.
Sang bijak tidak menimbun.
Semakin ia berbuat bagi orang lain, semakin ia sendiri memiliki.
Semakin ia memberi kepada orang lain, semakin ia sendiri berlimpah.
Jalan langit menguntungkan dan tidak mencelakai;
Jalan sang bijak bertindak dan tidak berlomba.